I’m Having A Writer’s Block….Be back soon (Hopefully)

Writer's Block

Altiverse: Penyusup Semesta (Versi Cerpen)

Aku bersumpah aku bisa melihat seringai kejam pemburu yang kelaparan dari wajahnya.

“Arrrgh! Zii, dimana kau?!!” aku berteriak dengan harapan suaraku dapat menghampiri indera pendengaran Zii dan memberitahunya bahwa aku sedang dalam kesulitan dan butuh bantuan, sambil aku terus melangkahkan kaki-kakiku dengan cepat secara bergantian.

“Kau tidak bisa lari dariku Manusia! Hahahaaa!!!” kalimat yang terdengar olehku dari arah belakang, aku tidak perlu repot-repot menoleh karena aku tahu itu suara siapa, atau lebih tepatnya, suara apa.

Saat ini aku sedang berlari menuju pintu tempat awal aku masuk ke tempat terkutuk ini, menyusuri Labirin yang membutuhkan waktu seharian untukku menemukan ‘ujung’-nya hanya untuk mendapati diriku berhadapan dengan Balthor, yang berbadan sebesar gedung perpustakaan balai kota dengan mata merah berapi-api −dan yang kumaksud dengan berapi-api,adalah secara harfiah−, wajahnya merupakan perpaduan antara Naga dalam cerita-cerita mitologi Cina dan kerbau-kerbau di perternakan Pak Smither, belum lagi cakar-cakar tajam −menjijikkkan− ditangannya dan suaranya yang begitu bergema.

Walau masih banyak deskripsi mengerikan lain tentang penampilannya, aku tidak menghiraukannya, karena saat ini aku sedang dikejarnya! Dan itu sudah lebih dari kata mengerikan itu sendiri.

3 minggu yang lalu….

“Seperti yang kita semua tahu, dimensi satu disimbolkan oleh para ilmuwan dengan sebuah titik” jelasku.

“Dan dengan ditemukannya axis (sumbu) X dan axis Y maka dimensi kedua disimbolkan dengan sebuah persegi empat, atau masih berupa bidang datar”.

“Lalu tidak dibutuhkan waktu lama sampai dikembangkannya axis Z, untuk mengembangkan persegi empat tadi dengan ditambahkan volume sehingga menghasilkan sebuah kotak, yang melambangkan dan membentuk dimensi yang paling sering kita dengar yaitu dimensi ketiga” jelasku berlanjut sambil terus menggoreskan kapur dipapan tulis dengan membentuk pola-pola khusus yang aku harap bisa memberikan gambaran akan penjelasanku.

“Tapi bagaimana jika kita menambahkan satu atau lebih axis-axis yang baru maka apa yang kita dapat?”

“Umm…. Dimensi keempat?” sahut seseorang.

“Salah! Kita akan mendapatkan sebuah konsep dimensi baru, Multi-Dimensi” tukasku.

“Begini, disini kalian bisa lihat bahwa….” sementara aku menjelaskan sambil membuat sebuah ilustrasi baru di papan tulis, tiba-tiba terdengar sebuah suara menyela “Tunggu dulu!”.

“Apakah sudah pernah ada ilmuwan yang mengemukakan konsep Multi-Dimensi ini?” lanjut suara itu. Dan setelah aku menolehkan wajahku kearah asal suara itu, barulah aku tahu bahwa itu adalah suara Pak Denison, guru Sains Bebas dikelasku.

“Belum, pak…. Tapi….”

“Tuan Nick Azaria. Saat saya memerintahkan kalian untuk mempresentasikan sebuah study ilmiah mengenai sains ataupun konsep-konsep yang bersangkutan, yang saya  maksud adalah sebuah sains yang real! Sains yang benar-benar ada dan pernah dikemukakan oleh para ilmuwan dan yang kalian perlu lakukan hanyalah mempresentasikan hal tersebut, apa itu terlalu sulit?”

“Aku mengerti pak, tapi….”

“Kalau kau mengerti, kenapa tidak kau presentasikan sains yang benar-benar ada seperti konsep Thermodynamic atau bahkan yang lebih mudah teori Gravitasi dari Einstein?!”

“Aku hanya mencoba mengembangkan konsep dimensi yang sudah ada dan….”

“Mengembangkan? Apa maksudmu mengembangkan?! Apa kau merasa seperi seorang ilmuwan sekarang?”

“Tidak, pak.”

“Apakah kau benar-benar bisa membuktikan konsepmu itu secara ilmiah?!”

“Tidak, pak.”

“Jadi kau mau bilang bahwa yang kau presentasikan ini hanyalah sains imajiner..? Sains fiktif..?!”

“….Ya, kurasa begitu, pak.”

*Kriiing!* Bel berbunyi yang menandakan akhir jam pelajaran. Belum hilang raut kekesalan yang terlihat dari wajah Pak Denison, teman-teman kelasku langsung berhamburan keluar kelas meninggalkanku yang masih harus membereskan presentasiku dan Pak Denison, sepertinya belum selesai mengomeliku.

“Tuan Nick. Tadinya saya berharap banyak darimu pada tugas presentasi sains ini” tukas Pak Denison memecah kesunyian ruang kelas.

“Saya akan memberimu satu kesempatan lagi untuk tugas ini. Cobalah kembali ke dunia nyata” lanjutnya menyindir.

“Baik,pak. Terima kasih.”

Pak Denison melangkahkan kakinya mendekati meja kayu yang diatasnya bertengger sebuah papan nama dengan tulisan ‘Richard Denison’, melewati papan tulis tempatku berdiri tertunduk.

Ia mengambil tas kulitnya yang selalu dibawanya tiap kali mengajar yang beristirahat persis disebelah papan namanya lalu kemudian lagi-lagi berjalan melewatiku menuju pintu kelas. Tanpa menoleh kebelakang ia berkata “Sampai jumpa minggu depan. Jangan membuat saya kecewa!” dengan nada menekan.

Beberapa saat setelah tidak bisa lagi kudengar langkah kaki Pak Denison dan aku hendak mengambil tasku ditempatnya tadi duduk saat presentasiku, tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku. “Konsep Multi-Dimensi ya?”. “Hng?! ” aku menoleh dan kulihat seseorang dengan jubah aneh berwarna gelap sedang duduk dengan santai diatas meja Pak Denison.

“Ya, begitulah…” jawabku tidak bersemangat.

“Dengan suatu cara kita bisa menembus pintu antar-dimensi menuju semesta-semesta lain di dimensi yang berbeda dari semesta kita….” jelasnya.

“Dan semua semesta-semesta lain itu dibatasi dengan ruang dan waktu oleh tiap-tiap dimensi yang berbeda yang kesemuanya terhubung satu sama lain…. Konsep Multi-Dimensi” lanjutku.

“Bagaimana kau bisa tahu konsepku itu?!” tanyaku tegas.

“Yap, sepertinya memang kaulah orangnya.” Dikeluarkannya sebuah senjata aneh dari balik jubahnya dan ia mengacungkannya ke arahku.

“Hei hei tunggu dulu! Apa yang kau…. Argh!”

 ****

……Tidak ada yang bisa kuingat setelah kejadian itu, sampai akhirnya suara seseorang membangunkanku. “Ayo bangun bocah!” teriaknya membangunkanku, dan dia berhasil.

Kubuka mataku dan kukumpulkan kesadaranku dengan segera dan mendapati bahwa orang yang membangunkanku itu adalah orang yang sama yang menembakkan senjata-pembuat-tak-sadarkan-diri itu.

“Kau! Apa yang kau lakukan padaku?! Dimana aku sekarang?!!” kutarik jubahnya dengan kasar untuk melihat wajahnya lebis jelas.

“Kau baru saja bangun setelah tak sadarkan diri selama seminggu, dan kau langsung memiliki tenaga untuk melakukan ini. Hebat sekali. Sekarang, maukah kau tenang dan melepaskan jubahku biar aku bisa menjelaskan semuanya padamu..?” tawarnya. Kulepaskan jubahnya dan sesaat kemudian dia menyuruhku untuk mengikutinya. Itulah yang kulakukan.

Menyusuri lorong-lorong, kami berjalan. Bisa kulihat di kanan-kiri pintu demi pintu yang semakin aneh bentuknya kami lewati. Dindingnya juga dihiasi ukiran-ukiran aneh yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tapi yang lebih membuatku terkesima adalah keseluruhan bangunan ini bukan hanya terlihat berwarna silver, tapi memang terbuat dari silver! Tidak lama kemudian kami berjalan melewati sebuah aula besar dengan hiasan-hiasan mewah dan bersinar disekitarnya. Hanya ada satu kata dalam benakku  saat itu untuk menggambarkan apa yang kulihat, mahal.

“Yap, inilah pintu utamanya” manusia berjubah itu berkata, seraya mendorong daun pintu yang sangat besar dan kokoh, namun anehnya ia membuatnya seperi mudah untuk dilakukan. Dan aku tertegun saat melihat apa yang ada dibaliknya.

“Woah!” ekspresi pertamaku. Tidak pernah kulihat sebelumnya sebuah kota yang begitu bersinar. Dari tempatku berdiri, bisa kulihat seisi kota itu dipenuhi dengan bangunan-bangunan yang hampir kesemuanya terbuat dari silver −kecuali dibeberapa sudut bangunan terdapat dinding-dinding emas dan berlian. Berbagai macam bentuk, bangunan itu terlihat. Hexagon, Pentagon, Kerucut, Balok, Piramid, Trapesium, dan hampir semua bentuk-bentuk bangun lain dalam pelajaran Geometri Bu Hannigan ada. Dan yang lebih aneh adalah bentuk kota itu semakin jauh semakin menjulang keatas dengan langit-langit berhiaskan mesin-mesin canggih yang terus-menerus bergerak, bagaikan kota didalam pipa berbentuk tabung.

“Baiklah. Selamat datang di kota Lylaz B. Dan saat ini kau berada disemestaku, Tetrasagon.”

“Semestamu, apa maksudmu?” tanyaku.

“Kau masih ingat kan konsep Multi-Dimensimu itu..?”

“Ya, tentu saja. Aku yang menemukannya! Tapi, tunggu dulu…. Apa kau mau bilang saat ini aku sudah menyeberang ke semesta lain melalui pintu antar-dimensi?! Bagaimana bisa?!” kembali aku bertanya, hanya saja kali ini rasa ingin tahuku bertambah berkali-kali lipat dari sebelumnya.

“Kau terlalu banyak bertanya.” Hanya itu jawaban yang kudapat dari manusia berjubah itu dengan diiringi senyum lirihnya. “Ayo turun kelapangan dan menemui yang lain” ajaknya.

Setelah sampai ke tempat yang dituju, bisa kulihat 4 makhluk lain yang sudah menunggu kami. “Baiklah Nick, biar kuperkenalkan satu persatu rekan-rekan barumu.

“Yang disebelah kiri adalah Garad, dia Taurs dari semesta Minasagon.”

“Gromm!” sapa makhluk berbadan besar dan berbulu itu.

“Dan disebelahnya ada Rafnolla, tapi kau bisa memanggilnya Kai, dia seorang Herling dari semesta Triskasagon.”

“Halo, Kai. Senang berjumpa denganmu, Kai.” Sekarang aku tahu kenapa mereka memanggil makhluk kecil dengan telinga panjang dan bermata tajam bak kucing itu Kai.

“Lalu ada Flimhotek Kasta, Wizardan dari semesta Helossagon.”

“Panggil saja aku, Flim.” Yang bisa kupikirkan tentangnya hanya satu, Penyihir.

“Dan yang terakhir ada… Err… Siapa namamu..?”

“Aku XF-42M/Jo-L4K, Gahstan dari semesta Corasagon” jelas makhluk mesin mengkilap berarmor lengkap dan kelihatan berat itu.

“Ya, itulah namanya….. Kurasa kau bisa memanggilnya Sef. Dan aku sendiri Zii dari semesta ini. Dan kawan-kawan, inilah Nick Azaria.” Sekarang aku tahu bahwa manusia berjubah itu bernama Zii, tapi masih lebih banyak hal yang kuingin ketahui. Dan sepertinya aku tidak bisa menahan semua pertanyaan-pertanyaan itu dalam hati tanpa jawaban.

“Oke, baiklah. Sudah cukup dengan perkenalannya. Sekarang jelaskan padaku mengapa dan apa yang kulakukan disini?” tanyaku bernada memaksa.

“Yah, kurasa memang kaulah satu-satunya yang belum mengetahui semua ini…. Begini, dunia kita semua saling terhubung antar-semesta dan antar-dimensi. Dan gabungan-gabungan antar-semesta itu yang kami sebut, Altiverse. Ada banyak Altiverse diluar sana, masing-masing terdiri dari 5 sampai 8 semesta. Sedangkan Altiverse kita menghubungkan 6 semesta yang kalian dan aku wakili masing-masing, dan kau berasal dari semesta Vexosagon.”

“Vexosagon? Aku bahkan belum pernah mendengarnya. Aku berasal dari Bumi!”

“Tidak tidak tidak. Yang kau sebut Bumi itu hanyalah bagian kecil dari suatu semesta, seperti satu helai rambut di badan seorang Taurs. Jangan tersinggung Garad” ia melirik Garad sambil tertawa kecil, dan diikuti oleh yang lain.

“Groomm!”

“Biar kulanjutkan. Tiap gabungan semesta memiliki satu penggangu atau bug, yang kita sebut Penyusup Semesta yang mengganggu keseimbangan antar-semesta dan antar-dimensi. Dan disitulah peran kita sebagai Penjaga Altiverse.”

“Penjaga Altiverse? Aku masih tidak mengerti, kenapa aku?”

“Aku belum selesai. Penyusup Semesta terjadi tiap satu siklus. Itu sama dengan 500 tahun di semestamu. 1863 tahun di semesta Garad. 1000 tahun di semesta Kai. 742 tahun disemesta Flim. 139 tahun disemesta Sef. Dan hanya 6 tahun di semestaku ini. Kau bisa menyalahkan antar-dimensi untuk perbedaan waktu itu. Dan Penyusup Semesta berikutnya datang tepat 2 minggu lagi. Setiap kali Penyusup Semesta akan terjadi, entah bagaimana menimbulkan efek yang cukup aneh, yaitu sebagian pengetahuan akan Altiverse dan konsep antar-dimensi akan tertanam dalam pikiran salah seorang ditiap-tiap semesta, dan orang itulah yang pada akhirnya kami pilih sebagai Penjaga Altiverse. Dan dalam kasusmu, kau menyebutnya konsep Multi-Dimensi.”

“Apa maksudmu tertanam?”

“Coba kau ingat-ingat, bagaimana bisa kau tiba-tiba mengetahui tentang konsep Multi-Dimensimu itu…. Kau bahkan tidak tertarik dengan sains” tukasnya menantang.

“Aku….” Aku hanya bisa berpikir sejenak dan terdiam, karena apa yang dikatakannya memang benar, konsep Multi-Dimensi yang kutemukan −atau setidaknya begitulah kupikir− memang tiba-tiba saja muncul dalam benakku suatu hari tanpa ada penjelasan yang jelas bagaimana itu terjadi.

“Bagaimana? Apa kau bisa menjelaskannya? Tentu saja tidak. Karena pengetahuan akan Altiverse dan antar-dimensi diluar pemahaman makhluk-makhluk berpikir dari dimensi kelas II dan III, yaitu dimensimu, Garad, Flim, dan Kai. Berbeda dengan dimensi kelas I seperti dimensiku dan Sef.”

“Hmm…. Lalu apa yang harus aku lakukan lebih tepatnya?”

“Untuk saat ini, latihan! Itu berlaku untuk kalian semua. Sampai aku mengetahui dimana Penyusup Semesta akan terjadi.”

Dimulailah waktu-waktu terberat yang pernah kami alami. Semua latihan yang kami jalani tidaklah seperti latihan yang pernah kubayangkan. Mulai dari berlari-lari kecil disebuah jalan yang membentuk sudut 90 derajat, menarik sebuah patung berlian seberat 2 ton, menghempaskan diri ke udara setinggi ratusan meter dengan alat pelontar, bertarung melawan diri sendiri secara harfiah dengan memasuki pikiran masing-masing menggunakan sebuah alat yang bernama Gerbang Pikiran, dan masih banyak latihan-latihan tidak masuk akal lainnya yang kupikir diperuntukkan bukan kepada manusia. Namun, entah bagaimana aku berhasil mengikuti kesemuanya dengan cukup baik…. Kurasa.

****

Disela-sela latihan kami yang sudah berlangsung selama kurang lebih dua minggu −atau setidaknya kupikir dua minggu karena sulit sekali menentukan waktu tanpa matahari− sesosok wajah yang familiar menghampiri kami.

“Bagaimana latihan kalian kawan-kawan?” tanyanya dengan dihiasi senyum diwajahnya.

“Jika kau menganggap semua luka ataupun memar dan kesulitan bernafas ini sebagai hal yang biasa, kurasa semuanya berjalan lancar. Tapi mengapa kau tidak ikut latihan dengan kami, Zii?”

“Semua latihan ini diperuntukkan kepada makhluk-makhluk diluar semesta ini. Lagipula aku sudah bosan berlatih mengingat semua metode latihan ini aku yang menciptakannya” jawabnya.

Tidak puas dengan jawabannya, aku baru saja ingin memaksanya untuk ikut berlatih sampai tiba-tiba sebuah suara tergesa-gesa membuat kami semua menoleh dan bisa kulihat seseorang yang memakai jubah berwarna putih yang kelihatan lebih aneh dari yang dikenakan oleh Zii sedang berlari kearah kami.

“Jenderal Zii! Kami sudah menemukan koordinat Penyusup Semesta. 210°-G50L’37-46 di semesta Minasagon. Dan akan terjadi dua hari lagi!” jelasnya dengan semangat.

“Bukankah itu koordinat Penjara Labirin Sinay! Dan itu tempat dikurungnya….”

“Grooooaaaamm!!!” Garad mengeluarkan suara auman cukup keras yang sontak membuat orang-orang disekitarnya terkejut.

“Penjara Labirin? Apa itu?” tanyaku.

“Penjara Labirin biasanya digunakan para Taurs untuk mengurung makhluk-makhluk purba mengerikan yang tertinggal evolusi, mereka menyebutnya Ras Thor. Dan dari informasi yang pernah kudengar Penjara Labirin Sinay adalah tempat dikurungnya Thor yang paling mengerikan, Balthor!”

“Lalu, apa hubungannya dengan Penyusup Semesta?”

“Huff…. Mungkin aku seharusnya memberitahumu lebih awal. Ada alasan mengapa kami menyebutnya Penyusup Semesta. Pertama, pada awalnya tidak ada yang tahu dimana ia akan terjadi, tapi terima kasih kepada para ilmuwan Lylazium itu berkat penemuannya kita bisa mendeteksinya sekarang. Kedua, Penyusup Semesta pada dasarnya tidak memiliki bentuk, pada saat ia terjadi ia akan mengambil alih tubuh makhluk hidup yang diinginkannya, lalu mempengaruhi lingkungan disekitarnya, mulai dari daun-daun kering yang berjatuhan sampai gunung-gunung yang menjulang tinggi tidak luput dari infeksinya. Dan saat itu terjadi, pintu antar-dimensi akan terbuka tak beraturan, menyebabkan ketidakseimbangan, sampai pada akhirnya…. Benturan antar semesta!” jelasnya. Terdapat nada tegang didalamnya.

“Istirahatlah sekarang kawan-kawan. Karena siap atau tidak 2 hari lagi kita akan Melintas ke semesta Minasagon.”

****

Saat ada yang berkata bahwa terjun payung itu rasanya seperti terbang, aku tahu mereka berbohong. Karena terjun dari ketinggian yang luar biasa itu rasanya ya seperti terjun, terjatuh, atau apapun kata yang bisa menggambarkan rasa mual saat angin menghantam wajahmu dengan cepat, isi perutmu seperti ingin meninggalkan tubuhmu, dan yang lebih buruk tidak mengetahui kapan itu semua akan berakhir. Itulah yang kurasakan saat Melintas untuk pertama kalinya dalam keadaan sadar.

Sesaat kemudian kami berada didepan sebuah gua yang menjorok kebawah ditengah-tengah sebuah gunung tandus.

“Inilah dia, bersiaplah kawan.” perintah Zii sambil memakaikan sebuah topeng mengkilap ke wajahnya. Dan bisa kulihat Garad mencengkram kapak besar dengan kedua tangannya, Flim yang tidak pernah berhenti membacakan suatu mantra ke tongkat sihirnya, Sef mempersiapkan semua armor dan senjata lengkapnya yang kelihatan canggih, dan Kai, Kai tersenyum misterius seperti biasanya.

****

Satu persatu dari kami berpisah tiap kali ada persimpangan jalan di dalam labirin dan meninggalkan aku sendirian yang cukup beruntung menjadi yang pertama menemukan ujung labirin ini. Bisa kulihat sesosok makhluk berdiri tegak didepanku dan memelototiku dengan pandangan serius.

****

“Arrrgh!! Zii dimana kau?!”

“Kau tidak bisa lari dariku Manusia! Hahahaaa!!!”

Disaat kupikir inilah akhirnya, tiba-tiba sebuah bola api melesat melewatiku dan melebur diwajah Balthor. “Flim! Syukurlah.” aku berhenti berlari saat Flim yang berdiri dengan tenang mengeluarkan bola-bola api raksasa secara misterius dari tongkatnya.

Belum cukup bola-bola api itu menghantam tubuhnya, Balthor −yang saat ini telah terinfeksi Penyusup Semesta− melemparkan batu gua besar dengan mudahnya kearah kami, dan bola-bola api Flim tidak cukup kuat untuk menghancurkannya. Kututup mataku dan bisa kudengar suara *boom!* yang kupikir batu itu telah mendapatkan tempatnya tepat diatas kami sampai kubuka mataku dan menyadari itu adalah suara roket-roket beterbangan dari arah belakang dan meledakkan batu besar itu. Kudapati Zii, Kai, dan Garad berlari kearahku, saat aku menoleh ke belakang. Dan Sef, ia sedang duduk dalam posisi siap sambil terus menembakkan roket-roket kecil berkekuatan besar yg tadi menyelamatkanku dari senjata canggihnya.

Zii dan Garad berhenti tepat disebelahku, namun Kai terus berlari kearah Balthor. Entah apa yang dipikirkannya.

“Kai, apa yang kau lakukan?” teriakku khawatir.

“Tenang saja, lihatlah.” jawab Zii menenangkanku.

Dan saat itu juga aku tercekat saat melihat Kai yang bertubuh pendek dan kecil seketika berubah menjadi sesosok makhluk yang bertubuh tidak kalah besar dari Balthor. Keduanya bertarung dengan posisi saling mengunci.

“Lalu apa yang harus kita lakukan Zii?”

“Tunggu sebentar. Sef! Berikan aku alat kamuflase milikmu!” teriak Zii. Dan Sef mengambil sebuah alat kecil aneh dari kantung di armornya dan melemparkannya kearah Zii.

“Ini pakailah.” ia memakaikan alat itu kepadaku. Dengan diselingi suara ledakan, auman, dan dentuman, Zii memberikan suatu instruksi padaku “Kau lihat gumpalan listrik berwarna-warni diujung ruangan dibelakang Balthor itu?”

“Ya.”

“Itulah sumber energi Penyusup Semesta, aku ingin kau kesana dan memasukkan Sel Kode ini sementara kami akan menahan Balthor selama mungkin.” sambil menyerahkan sebuah benda berbentuk piramid itu ia mengaktifkan alat kamuflase ditubuhku dan seketika aku menjadi tak terlihat.

Belum cukup melawan monster besar yang bernama Balthor, tiba-tiba sekawanan hewan-hewan buas yang mirip seperti serigala bermunculan dari arah pintu masuk Labirin. Terdapat suatu keganjilan pada hewan-hewan itu…. Ya, mereka menyerang kawan-kawanku dengan brutal. Sepertinya infeksi Penyusup Semesta makin meluas.

“Aaaargh!!” Kai terhempas. “Cepatlah, kita tidak punya banyak waktu!” teriak Zii dengan nada tegang sambil ia berlari dengan lincah menaiki tubuh Balthor yang besar dan berusaha melukainya dengan pedang bercahaya silvernya dengan dibantu Garad. Sef berlari ketempat Kai terhempas untuk melindunginya dari serangan serigala-serigala buas. Begitu juga dengan Flim.

Aku mengendap menghindari kaki-kaki Balthor yang bergerak kesana-kemari sampai akhirnya aku hampir tiba di gumpalan listrik itu. Semakin dekat semakin bisa kurasakan energi dahsyat yang seperti mencoba menarikku kedalamnya. Semakin berat langkahku terasa. Kesadaranku mulai menipis. Sebelum sempat seluruh tubuhku berubah kaku seperti membatu, aku mengeluarkan benda segitiga yang kudapatkan dari Zii dan menjulurkan tanganku masuk kedalam gumpalan listrik itu yang terus menarik karena tidak cukup tenagaku untuk melepaskannya.

Hal terakhir yang bisa kulihat sebelum kesadaranku benar-benar hilang, sesuatu seperti keluar dari tubuh Balthor yang terus mengaum dengan keras dan terdengar amat kesakitan, teman-temanku tergolek tak berdaya di tanah, bisa kulihat Zii dengan sisa tenaganya melepas topengnya dan melihat kearahku dari kejauhan, tersirat senyum bahagia diwajahnya, gumpalan listrik itu meledak, mengeluarkan berbagai benda-benda semu dari dalamnya, dan meruntuhkan Penjara labirin ini. Masih sempat pula kulihat bebatuan jatuh dari langit-langit sebelum akhirnya kesadaranku benar-benar hilang.

****

“Nick! Nick! Bangunlah! Ini barusan tukang pos mengantarkan sebuah surat untukmu.”

“Ibu?”

Entah apa yang terjadi dan entah bagaimana aku terbangun diatas tempat tidur yang nyaman dikamarku. Disampingku terbaring sepucuk amplop putih elegan dengan tulisan “Kepada, Tn. Nick Azaria” yang ditulis dengan tinta silver.

Kubuka amplop itu dan mendapati sebuah kunci tipis berbentuk unik dan sepucuk surat….

Kudapati sebuah kunci tipis unik dan sepucuk surat

¤ Selesai ¤

Pengarang: imajinaria

Genre: Fantasi

Catatan: Cerita ini diikutsertakan dalam lomba cerpen Fantasy Fiesta 2011 yang diadakan kastilfantasi.com

¤~~~~~~◊~~~~~¤

Kritik dan saran dalam bentuk apapun (pedas,tajam,dsb) sangat diharapkan.

Selamat menikmati. :D

Let your imagination flow~

The Tale of: Sky (Ch. II)

<<< Baca Chapter I

≈Ö~~~~~~ Chapter II ~~~~~~Ö≈

Perjalanan Lintas-Dunia yang baru saja dialaminya —walaupun dia sendiri tidak bisa mengingatnya— membuat Sky merasa sangat kelelahan. Tenaganya hanya cukup untuk membuatnya berdiri dan mengingat-ingat siapa orang yang dimaksud oleh catatan kecil dikertas itu dan apa yang baru saja terjadi. Bagaimana bisa dia merasa sangat kelelahan…..
More

Pengumuman! Fantasy Fiesta 2011 Dimulai!

Fantasy Fiesta 2011

Hai, Teman-teman, lomba menulis cerita pendek fantasi Fantasy Fiesta telah memasuki tahun ketiga, dan inilah saatnya kembali berpesta.

Ingin terus berimajinasi, berkumpul dengan para penulis dan pembaca cerita-cerita fantasi,  bertukar kritik serta saran dan akhirnya mendapatkan hadiah-hadiah menarik? Jangan sampai ketinggalan. Simak syarat dan ketentuannya di bawah ini, dan segera siapkan cerita terbaikmu.

More

Imajinesia [Web. 2]

UPDATE—

♣~~Imajinesia Webisode 2 : “Kota yang aneh!”~~♣

 

Author’s Note (Imajinesia)

IMAJINESIA —bagian I “Awal Segalanya”

Yap, kali ini saya akan membahas tentang cerbung (cerita bersambung) pertama yang di-publish di blog ini, yang berjudul Imajinesia.

More

Elemental

◊~PROLOGUE~◊

250 tahun yang lalu, seorang ilmuwan jenius menciptakan sebuah ‘benda’ yang sangat luar biasa. Ia menggabungkan sihir dan ilmu pengetahuan dalam percobaannya untuk menciptakan benda tersebut. “Elemental Stone“, itu nama yang diberikannya pada benda yang ia ciptakan itu, yang kemudian juga dikenal sebagai Batu Mulia. Benda itu memiliki kekuatan misterius yang luar biasa, siapapun yang menggunakan Elemental Stone itu, ia dapat menguasai seluruh elemen yang ada di dunia ini. Dan kemampuan itu dikenal dengan nama Elemental.
More

Review: The Number Devil (Setan Angka)

The Number Devil

The Number Devil: A Mathematical Adventure atau yang dalam terbitan Indonesia-nya berjudul Setan Angka adalah sebuah novel yang berisi tentang sebuah petualangan seorang anak bernama Robert di dunia mimpi. Namun petualangannya bukanlah petualangan biasa, bahkan bisa di bilang Luar Biasa, karena petualangannya merupakan sebuah petualangan Matematika.

Ya  benar, Matematika….

Mungkin ketika mendengar kata ‘ajaib’ itu —Matematika— kalian berpikir itu bakal menjadi cerita membosankan mengenai angka, perhitungan, penjumlahan, dan sebagainya. Jika kalian berpikir begitu, kalian tidak salah kecuali di bagian ‘membosankan’. Karena dalam novel ini, Hans Magnus Enzensberger selaku penulisnya, melakukan perkerjaan yang sangat baik dengan membawa pembahasan mengenai Matematika ke level selanjutnya, dalam arti ‘Menyenangkan’.
More

Rumah Vortex

Rick dan teman-temannya sedang berjalan menuju Pesta Halloween yang diadakan disekolahnya. Rick memakai kostum vampir, kemeja putih lengan panjang dengan desain klasik ditutupi oleh rompi velvet berwarna ungu gelap lengkap dengan jubah panjang berwarna hitam ditambah dengan kalung dengan bandul berbentuk aneh, tak lupa dengan gigi taring palsu. Teman-temannya juga mengenakan kostum yang bermacam-macam, Brandon memakai kostum mumi, Lee dengan kostum zombienya, yang lainnya, succubus, bajak laut, dan kostum-kostum aneh lainnya. Setelah beberapa lama mereka berjalan, mereka menyadari tidak seberapa jauh lagi mereka akan melewati sebuah rumah yang sudah ada sejak dibangunnya kota kecil ini, dan dipercaya amat sangat angker. Rumah Vortex.
More

Pray For Indonesia….

Indonesia, tanah air kita ini kembali diterpa rangkaian musibah bencana alam yang merenggut ratusan nyawa dan meninggalkan ribuan orang lainnya kehilangan tempat tinggalnya.

Dimulai dari musibah banjir bandang di Wasior, Papua, gempa bumi di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, yang disusul dengan Tsunami, dan meletusnya Gunung Merapi di daerah perbatasan Yogyakarta. Yang sudah pasti semuanya meninggalkan luka mendalam bagi para korban khususnya, dan seluruh rakyat Indonesia pada umumnya.

Saya sebagai bagian dari bangsa Indonesia turut berbelasungkawa atas musibah-musibah yang terjadi tanpa diduga tersebut.

Dan saya mengajak kalian semua….

Let’s Pray For INDONESIA….

Pray For INDONESIA....

Do’a dan simpati yang kita berikan pasti bisa meringankan beban para korban.

Jangan pernah meremehkan kekuatan dari DO’A & SIMPATI..!

Previous Older Entries

Statistic

  • 994 Pengelana
free counters
IP
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers